Kemudian inilah yang sedang berkecamuk dalam hati. Egois, sungguh aku membencinya. Tapi juga takut, takut terprovokasi olehnya dan juga takut menjadi bagian dari dirinya. Aku harus terus berkaca untuk menghindari dia, jika terlambat tolong tampar aku. Hingga aku benar benar sadar. Jangan sampai aku melakukan apa yang aku benci. Siapa yang ingin sebuah dua paham, ya tidak konsisten. Dia sangat berbahaya. Menghancurkan, melukai, sebuah rasa ingin menang sendiri. Oh aku benar-benar takut. Mengenai jawaban akan kebencianku, seseorang menulis pemikirannya hingga membuatku berpikir kembali. Wanita itu berkata: “Konsep dasarnya adalah, hal yang paling menarik bagi seseorang adalah dirinya sendiri. Coba ingat ingat. Sebuah foto bersama didefinisikan bagus ketika muka kita sendiri tampak bagus bukan di dalamnya? Saat berfoto bersama, yang dicek pertama kali adalah muka kita sendiri bukan? Jadi saat merasa orang lain egois, hanya mementingkan diri sendiri, tidak mempedulika...
Aku hanya sedang risau. Takut tak memenuhi ekspektasi dan harapan. Keterbatasan kemampuan dan harapan yang terlampau tinggi datang bersamaan. Wajah-wajah pengharap itu terus muncul bergantian. Juga wajah penilai dan perkataannya. Aku tak berkutik, hanya bisa termangu melihat semuanya bergerak. Tak percaya diri ini datang membuat diri tak berdaya. Atau aku hanya terlalu pesimis, terkunci dalam ketidakmampuanku. Kemarin dan sekarang sama saja bila takut ini selalu merantai. Tapi sisi hatiku bicara untuk mencoba, entah bagaimana caranya. Tapi sesuatu berbisik "Kalau kau tak menyemangati dirimu lantas siapa lagi yang akan menyemangati? Mereka tak pernah tahu apa yang kau hadapi jika tak kau jelaskan" Dia semakin mencerocosi aku, dengan meluap-luap ia bicara. "Jadi berharap pada siapa lagi sebaiknya? Hanya dirimu yang bisa menjawab. Kau tahu kan, sudah bukan waktunya menyalahkan hari kemarin? untuk menyalahk...
Ketika berjalan kaki di trotoar kota, kita akan menemukan berbagai pemandangan manusia melakukan aktivitasnya. Mulai dari pedagang kaki lima yang melayani pembeli, kemudian lalu lalang orang menyebrang di jalur penyebrangan jalan, dan juga orang yang menunggu angkutan umum di halte. Bermacam-macam ekspresi bersatu menjadi seni kehidupan yang menarik untuk diamati. Namun ditengah perjalanan itu ada sesuatu yang menyita perhatian saya, beberapa kali saya temukan bekas ludah yang tercecer oleh pejalan kaki lainnya. Bahkan saya sempat memergoki seorang bapak-bapak membuang air liurnya dengan santai di trotoar. Kejadian ini bukan kali pertama, sebagai seorang komuter yang beraktifitas di kota besar. Saya juga sering menemukan bekas liur bahkan dahak di peron-peron stasiun kereta dan juga terminal. Saat itu saya mulai menyadari betapa mudahnya orang berperilaku seenaknya di tempat umum. Entah ini masalah etika ataupun kurangnya kesadaran kebersihan. Namun perilaku terseb...
Komentar
Posting Komentar