Kemudian inilah yang sedang berkecamuk dalam hati. Egois, sungguh aku membencinya. Tapi juga takut, takut terprovokasi olehnya dan juga takut menjadi bagian dari dirinya. Aku harus terus berkaca untuk menghindari dia, jika terlambat tolong tampar aku. Hingga aku benar benar sadar. Jangan sampai aku melakukan apa yang aku benci. Siapa yang ingin sebuah dua paham, ya tidak konsisten. Dia sangat berbahaya. Menghancurkan, melukai, sebuah rasa ingin menang sendiri. Oh aku benar-benar takut. Mengenai jawaban akan kebencianku, seseorang menulis pemikirannya hingga membuatku berpikir kembali. Wanita itu berkata: “Konsep dasarnya adalah, hal yang paling menarik bagi seseorang adalah dirinya sendiri. Coba ingat ingat. Sebuah foto bersama didefinisikan bagus ketika muka kita sendiri tampak bagus bukan di dalamnya? Saat berfoto bersama, yang dicek pertama kali adalah muka kita sendiri bukan? Jadi saat merasa orang lain egois, hanya mementingkan diri sendiri, tidak mempedulika...
Aku hanya sedang risau. Takut tak memenuhi ekspektasi dan harapan. Keterbatasan kemampuan dan harapan yang terlampau tinggi datang bersamaan. Wajah-wajah pengharap itu terus muncul bergantian. Juga wajah penilai dan perkataannya. Aku tak berkutik, hanya bisa termangu melihat semuanya bergerak. Tak percaya diri ini datang membuat diri tak berdaya. Atau aku hanya terlalu pesimis, terkunci dalam ketidakmampuanku. Kemarin dan sekarang sama saja bila takut ini selalu merantai. Tapi sisi hatiku bicara untuk mencoba, entah bagaimana caranya. Tapi sesuatu berbisik "Kalau kau tak menyemangati dirimu lantas siapa lagi yang akan menyemangati? Mereka tak pernah tahu apa yang kau hadapi jika tak kau jelaskan" Dia semakin mencerocosi aku, dengan meluap-luap ia bicara. "Jadi berharap pada siapa lagi sebaiknya? Hanya dirimu yang bisa menjawab. Kau tahu kan, sudah bukan waktunya menyalahkan hari kemarin? untuk menyalahk...
Sumber: Infografis kpi.go.id Dalam peranannya, media audiovisual seperti televisi dan radio menggunakan frekuensi publik untuk menayangkan/memperdengarkan konten acara. Frekuensi yang digunakan sama dengan frekuensi yang digunakan untuk banyak hal seperti sambungan telepon, penerbangan, militer, hingga satelit. Pemakaian frekuensi bebas dipakai siapa saja untuk kepentingan rakyat, hal ini sesuai dengan Undang-Undang Penyiaran No. 32 Tahun 2002 dalam mukadimahnya yang menuliskan bahwa frekuensi merupakan sumber daya alam terbatas dan kekayaan nasional yang harus dijaga dan dilindungi oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Agar penggunaan frekuensi publik pada media audiovisual digunakan secara bijak, dibutuhkan regulator untuk mengatur materi tayangan supaya output yang dihasilkan telah disaring sesuai aturan dan norma yang berlaku. Sehingga konten acara yang ditayangkan tidak seenaknya diperlihatkan oleh stasiun televisi. Dalam bidang media a...
Komentar
Posting Komentar